Selasa, 15 Maret 2011

BANDARA


Aku benci bandara.
Tidak suka.
Bahkan sangat tidak suka, bandara.
Andai tak ada bandara aku tidak akan kehilangan dia.
Andai tak ada bandara, saat ini aku pasti masih bersamanya.
Andai tidak ada bandara, aku tidak akan pernah sesakit ini.....
Itu rutukanku 4 tahun yang lalu....
Rutukan masa kanak-kanakku
Kanak-kanak?
Ya. Kalau tidak, kenapa harus bandara yang kusalahkan? Kenapa bukan hatiku yang tak pernah punya keberanian? Kenapa bukan perasaanku yang tak pernah mengerti bahwa aku menyayanginya? Kenapa kebenaran itu harus hadir saat semua sudah tak ada artinya lagi?
Sekali lagi, itu rutukanku saat dia pergi... 4 tahun yang lalu
Sekarang? Terimakasih kepada bandara itu
Sebab dia, tuhan telah menyadarkanku bahwa dia bukan untukku...
Sebab dia, tuhan memberitahuku bagaimana belajar bangkit dari kerapuhan hatiku...
Sebab dia, tuhan telah membuatku berani mimilih....
Sebab dia, tuhan menyadarkanku agar tak hanya terpaku pada satu pintu, masih banyak pintu-pintu yang lain yang selalu terbuka untukku...
Sebab dia, tuhan telah menunjukkan yang terbaik untukku. Suamiku.
Terimakasih bandara...

0 komentar:

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP