FIRST LOVE IS NEVER LAST! IS IT TRUE?
“kenapa saat itu kamu menjauh?” ucapnya masih membelakangiku
“kapan?” aku berdiri dari dudukku, memberanikan diri bebicara setelah hampir setengah jam aku hanya jadi pendengar setia keluh-kesahnya.
Langit mulai mendung, satu-persatu orang-orang yang sedang bersantai sore di taman ini mulai meninggalkan tempatnya dan beranjak pulang. Tinggal kami berdua disini. Aku dan orang dari masa laluku, orang yang pertama kali mampu menghadirkan getar-getar aneh di hatiku. Sekaligus orang pertama yang menorehkan luka di hatiku.
“setelah perpisahan SMP kita, saat itu aku mulai masuk SMA, kita masih satu area tapi kamu berubah. Menjauh……..” aku tetap tak beranjak dari tempat berdiriku.
Dia tak banyak berubah, hanya semakin tinggi dan rambut gondrongnya yang membuat dia terlihat lebih dewasa dibanding 5 tahun yang lalu.
“aku tidak pernah menjauh……” jawabku lirih masih menunggu dia berbalik menatapku
“lalu apa artinya selama 3 tahun kamu mendiamkan aku? Solah-olah kita tidak pernah saling kenal, kau…. Seperti orang asing saja” nada suaranya meninggi
“itu perasaanmu saja” aku menggigit bibirku agar aku tidak menangis.
Langit semakin gelap menambah kekalutan dalam dadaku.
“perasaanku? Ya, mungkin itu perasaaanku saja. Lalu, pernahkah kamu MEMIKIRKAN PERASAANKU??!!” dia berbalik menatapku tajam, meski gerimis mulai turun tapi aku tahu air di pipi itu bukan air hujan, dia menangis.
“AKU SELALU MEMIKIRKANMU! SEJAK DULU, SEJAK KITA SMA HINGGA KINI! Aku… aku terus memikirkanmu….” Kini airmataku benar-benar keluar dan becampur dengan hujan yang mulai turun. Aku melihatnya menangis, dan ini pertama kalinya aku melihatnya menangis, dia yang selalu tangguh, dia sang kapten yang selalu mampu mengatasi anak buahnya ketika mereka bentrok satu-sama lain, kini dia sepertinya bukan yang kukenal dulu. Sat ini diahadapanku, dia menangis…….
“saat itu aku tidak punya keberanian akan perasaanku, aku hanya berusaha membuang rasa itu…… dengan menghindarimu”
“dan muncul dengan status baru sebagai KEKASIH NICHOLAS? Begitu?”
“diam kamu! Kamu tidak tahu apa-apa!”
“karena kamu tidak pernah berusaha memberitahuku” balasnya
“karena kamu tidak pernah mau tahu! Dan sama sekali tidak pernah memberikanku kesempatan untuk memberitahumu” badanku terguncang,aku benar-benar menangis.
Kulihat dia ragu untuk mendekatiku, dan memutuskan tetap di tempatnya. Aku menatap matanya nanar.
“kamu tahu kenapa aku dengan Nicholash?” aku melangkah mendekatinya, dia tampak diam menatapku
“semua KARENA KAMU! KAMU DAN KRISTIN!”
“kristin?” dahinya berkerut
“kamu juga percaya isu itu?” lanjutnya mencibir.
“kenapa tidak? Kamu selalu dengan dia, ditambah lagi rumahmu tetanggaan dengan dia”
“childish”cibirnya lagi
“aku memang childish! Makanya kamu seenaknya mempermainkan perasaannku” tangisku makin menjadi
“aku tidak pernah mempermainkan perasannmu! Karena aku menyayngimu!” ucapnya setengah berteriak
“tapi kamu tidak pernah mau tahu tentang perasaanku” ucapnya lirih dia kembali membelakangiku
“dan, isu itu hanya isapan jempol belaka. Saat itu aku dengan kristin tidak ada apa-apa,tapi setelah kamu kembali dan mendeklarasikan diri dengan Nicholash aku menjalani sandiwara itu, sandiwara tanpa skenario yang sama sekali tak pernah kuharapkan…….. ” dia tampak menarik nafas
“dan teman-teman mulai menghidupkan isu itu” lanjutnya
‘tapi kamu menikmatinya” cibirku
“ya, aku menikmatinya sama seperti halnya dirimu menikmati hari-harimu dengan Nicholash, hanya bedanya aku menikmatinya dengan perasaan hambar” dia berbalik balas menatapku tajam
Lama kami tediam, hanya suara hujan yang terdengar, aku terduduk air mataku terus mengalir. Hujan makin deras tubuhku menggigil, aku tidak peduli. Aku tidak tahu haruskah aku gembira dengan kedatangan dia kembali disini. Atau harus menyesalinya karena kedatangannya memaksaku membuka luka lama dan membawaku kembali kemasa lalu.
“setelah aku di Canada aku terus menghubungimu, mengirimimu sms tiap hari dan itu berlangsung selama empat bulan, tapi tak pernah sekalipun kamu mebalasnya” dia melangkah ke arahku dan berhenti tepat di depanku,dia berjongkok dihadapanku jarak kami terpaut beberapa sentimeter saja.
“kenapa?” ucapnya lirih, kulihat mata itu sendu, meminta jawaban. Tangisku makin pecah
“sejak kepergianmu aku tidak pegang hp”
“kenapa?”
“aku rasa tidak lagi alasan bagiku untuk memegang hp” kami kembali terdiam
“kenapa kamu tidak menghubungiku leawat email, tidak balas emaiku?” aku balas menanyainya
“tunggu….. kamu bilang aku tdak kirim email? Tidak kebalik? Aku tak penah tidak membalas emailmu, tapi malah aku sering kirim email tapi kamu sangat jarang balas, hampir tidak pernah…”
“oh ya…….? Maksudmu emailnya dibawa angin? Begitu?!” aku mencibir
“kamu tahu sepertia apa perasaanku, saat aku dapat email kamu dari Ina? Aku pikir aku tak harus menceitakan secara detail, tapi yang pasti aku sangat bahagia dan….”
“sama. Aku juga dan saat itu aku bertekad untuk memperbaiki semuanya, aku pikir peluang itu masih ada, aku akan mencoba berani dan jujur dengan perasaanku. Tapi…….” Dia memalingkan wajah dariku
“kamu kembali dengan status barumu”
“aarrrrhggggggggggggg!!!!!!” dia meremas rambut gondrongnya, dan menendang kaleng tak berdosa di depannya
“aku tidak pernah menginginkan hal seperti ini. Aku hanya ingin jatuh cinta satu kali, dan satu orang…. Kamu!” dia menunjukku tepat di depan wajahku. Aku makin tegugu dengan keadaan dia sekarang
“aku…….” Aku tidak snggup menruskan kata-kataku
“maafkan aku….. ak lepas konrol” dia ampak gusar dan menyesal
“aku juga…… aku…… aku mampu bertahan hingga setahun yang lalu semua karena aku yakin aku bisa meraih cinta pertamaku. Aku….. meny……”
“aku menyayangimu. Masih dan akan terus menyayangimu” aku tergugu tubuhku bergetar hebat karena tangisku yang makin menjadi. Hari semakin sore, dan hujan belum juga reda
“meski untuk selanjutnya aku hanya bisa menyayangimu dengan cara yang berbeda………..”
“Anas………… aku……..”
“ssssstttttttttttttt……………… ” dia meletakkan telunjunknya di bibirku dan menggeleng
“kita hanya pemain, sang pembuat skenario yang berhak menentukan ending kisah ini, tugas kita hanyalah menjadi aktor yang baik. Kamu percaya takdir?” dia menatapku dalam, aku hanya terdiam
“yakinlah segala apa yang terjadi terhadap kita dari dulu hingga saat ini, itu adalah jalan takdir kita………..” dia bangkit dan berbalik……
“cinta itu tak harus memiliki” aku tahu dai menangis, sederas apapun guyuran hujan tidak akan bisa menyembunyikan suaranya yang bergetar.
“tapi…………….” Ddrrrtttttttttt… drrrtttttttttt. Getaran di saku bajuku mengurungkan aku melanjutkan kata-kataku, sebuah nama terpampang di layar hpku “mas Bayu”
“halo dek, kamu dimana? Tadi masak ke rumah kata mas One kamu keluar, hujan deras banget, jangan sampai kehujanan ntar sakit lagi. Ntar masak jemput,sekarang adek dimana?” aku termangu mendengar suara di ponselku.
Mas Bayu tunanganku, dia yang selama ini mengisi hari-hariku selama tidak ada Anas, menemaniku menunggu Anas, tempat curhatku tentang Anas. Anas Al-Mahdi cinta pertamaku.
“halo dek? Kamu baik-baik saja kan?” aku tersadar dari lamunanku. Anas menatapku…
“ah… iya mas adik baik-baik saja. Ntar lagi nyampe rumah”
“apa? Disitu suara hujan banget, adik bilang saja ada dimana ntar masak jemput”
“nggggg………..”
“pulanglah dia sangat menghawatirkanmu” Anas berbalik siap meninggalkanku
“tunggu…….” Langkah Anas terhenti tampa menoleh
“apa dek? Adek ngomong apa?” tutttttttttt……… aku matikan hpku dan bangkit melangkah menuju Anas
“ada apa?” kali ini nadanya dingin dan tetap membelakangiku
“kamu mau kisah ini berakhir seperti ini?” tangisku kembali pecah
“bukankah kisah kita sudah lama berakhir?” ucapnya ringan
“apa? Lalu apa maksud kamu kembali? Apa maksudmu memanggilku ke sini?” aku meraih bahunya dan menghadapkan badannya padaku, dia mengalihkan pandangan
“kamu mau mempermainkan perasaanku?” dia tetap tak menatapku sedikitpun
“kamu benar-benar jahat, kamu…………”
“karena aku rindu kamu” dia menatapku
“karena aku ingin bertemu denganmu. Itu alasanku kembali”
“meski kau tak mungkin kumiliki, tapi mengetahui bahwa masih ada cinta dihatimu untukku meski seujung kuku, itu sudah cukup” dia menatapku lembut
“tapi………….”
“sssssssssttttttttt, Airin,sekarang keadaannya sudah berubah, kita tidak bisa menafikan status kita saat ini. Jangan egois, mungkin tuhan menakdirkan kita untuk saling menyayangi, tapi tidak untuk saling memiliki. Perlahan dia membuka jaket yang dikenakannya
“Bayu itu baik, dia menyayangimu, aku kenal diasejak kicil. Begitupun hngga saat ini” dia menyampirkan jaketnya menutupi tubuhku
“dan kamu…..?” aku menatapnya
“keajaiban itu benar-benar ada, yakinlah keajaiban apapun nanti. Itulah yang terbaik untukmu, untukku… dan untuk semua dan saat itu kita harus siap menerima apapun itu”
Dia tersenyum, aku tahu senyum itu senyum keterpaksaan, lalu berbalik dan………….
“pergilah semua menghawatirkanmu” dia bersiap melangkah
“Anas…..” dia tidak menghiraukanku, aku tidak tahu apa aku salah dengar, tapi sepertinya aku mendengar dia berkata aku menyayangimu
“Anasssssssssssssss” aku berteriak memanggilnya, dia tetap melangkah meninggalkanku. Dan aku tidak punya keberanian untuk mengejarnya, yang kulihat punggung dan wajahnya yang tertunduk. Aku tahu dia resah, bahkan sangat. Aku tahu kabiasannya sejak SMP kala dia dia sedang resah, dia selalu memasukkuan kedua tangannya ke saku celanaya. Dan begitupun saat ini.
“Anasssssssssssssssss” aku terduduk, tangisku makin menjadi. Aku benci keadaan seperti ini, aku benci keadanku yang lemah. Saat ini aku seolah-olah de-javu untuk kedua kalinya. Aku melepasnya….. oarang yang sama.
Dddrrrrrrrrrtttttttt…… dddrrrrrrrrrrrtttttttt. Aku tak menghiraukan hp ditangannku. Untuk saat ini aku tidak ingin berbicara dengan siapapun, aku butuh waktu untuk memperbaiki semuanya. Kepalaku sakit lagi.
“dek, Masyaallah kamu kenapa? Kamu kok hujan-hujannan ntar kamu sakit lagi” aku tahu siapa pemilik suara ini. Mas Bayu meraihku dan membimbingku menuju mobil
“oke, kamu tidak harus menjelaskannya sekarang, tau sampai kapanpun,jika adek nggak suka. Jangan banyak mikir dek….. ingat kesehatnmu” kami sampai di mobil, sebelum aku masuk mobil aku menoleh berharap ada seseorang dengan kaus putihnya yang mulai kekecilan yang kuberikan padanya 5 tahun yang lalu berlari menujuku dan memanggilku. Tapi ternyata tidak ada siapa-siapa
“dek…..” aku tersadar dan bersiap masuk mobil, tapi sekilas aku lihat ada bayangn putih dikaca mobilku,saat aku berbalik tidak ada siapa-siapa .
“Dia benar-benar tidak meginginkanku lagi”
ba“dc
Saat kami sudah di mobil, tanpa sengaja aku menemukan kertas kicil terlipat rapi di saku jaket Anas
“sekali saja adik nyakitin hati Bayu, seumur hidup aku tidak akan memaafkannmu”
Apa maksudnya ini? Apa sebenarnya maksud dia melakukan ini? Kepalaku makin sakit. Aku tidak mau memikirkan ini lagi. Setidaknya ntuk saat ini.
Perlahan kulirik seseorang di sampingku yang kini tengah khusu’ menyetir, aku merasa bersalah kepadanya………….. dia selama ini yang selalu ada untukku….. menemaniku dengan sabar selama 5 tahun…….. aku…….
“mas……..” aku tidak sanggup berkata-kat lagi, karena kini air mataku telah membanjiri pipiku
“iya, kenpa? Kepalanya sakit lagi?” mas Bayu menghentikan mobil. Panik.
“masak kan dah bilang, adek itu lemah, jangan bandel. Hujan itu bahaya bagi kesehata adek” masak masih terus nyerocos dan menyentuh keningku
“tuh kan badan adik demam”
“mas…… aku…….” Aku mengabikan ocehannya, menatap tepat dimatanya. Masak diam
“maafkan aku……….. aku….”
“sssttttt……. Jangan banyak ngomong dulu, kamu masih sakit. Sudah tidur saja. Masak menyayangimu” perlahan masak mencium keningku, mengusap kepalaku pelan. Lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Aku memejamkan mata, mencoba membuang semua pikiran yang mebuatku kacau.
Hidup itu pilihan, sekal kita memilih putih, maka otomatis kitaharus berani kehilangan warna-warna yang lain, karena ini bukan pelangi. Tapi inilah hidup.
Aku telah memilih mas Bayu, dan mau tidak mau aku harus melepas dan siap kehilangn yang lain, termasuk Anas.
Di sebuah taman seseorang tengahsibuh mencari sesuatu di sakunya, dia tersadar sesuatu sesuatu yang dicarinya dan yang berniat dibuangnya kini ada di saku jaketnya, dan jaket itu tak bersamanya lagi
“ahr! Shitt! Sial!” lalu melangkah gontai meninggalkan taman itu, mencoba tegar, dan sesekali mengusap pipinya.
Kenapa aku selemah ini?
Terinspirasi dari ungkapan seorang Dosen
Terimakasih Bu. Hani’ah “AA’” karena akhirnya saya berani menulis "ini"
Langit mulai mendung, satu-persatu orang-orang yang sedang bersantai sore di taman ini mulai meninggalkan tempatnya dan beranjak pulang. Tinggal kami berdua disini. Aku dan orang dari masa laluku, orang yang pertama kali mampu menghadirkan getar-getar aneh di hatiku. Sekaligus orang pertama yang menorehkan luka di hatiku.
“setelah perpisahan SMP kita, saat itu aku mulai masuk SMA, kita masih satu area tapi kamu berubah. Menjauh……..” aku tetap tak beranjak dari tempat berdiriku.
Dia tak banyak berubah, hanya semakin tinggi dan rambut gondrongnya yang membuat dia terlihat lebih dewasa dibanding 5 tahun yang lalu.
“aku tidak pernah menjauh……” jawabku lirih masih menunggu dia berbalik menatapku
“lalu apa artinya selama 3 tahun kamu mendiamkan aku? Solah-olah kita tidak pernah saling kenal, kau…. Seperti orang asing saja” nada suaranya meninggi
“itu perasaanmu saja” aku menggigit bibirku agar aku tidak menangis.
Langit semakin gelap menambah kekalutan dalam dadaku.
“perasaanku? Ya, mungkin itu perasaaanku saja. Lalu, pernahkah kamu MEMIKIRKAN PERASAANKU??!!” dia berbalik menatapku tajam, meski gerimis mulai turun tapi aku tahu air di pipi itu bukan air hujan, dia menangis.
“AKU SELALU MEMIKIRKANMU! SEJAK DULU, SEJAK KITA SMA HINGGA KINI! Aku… aku terus memikirkanmu….” Kini airmataku benar-benar keluar dan becampur dengan hujan yang mulai turun. Aku melihatnya menangis, dan ini pertama kalinya aku melihatnya menangis, dia yang selalu tangguh, dia sang kapten yang selalu mampu mengatasi anak buahnya ketika mereka bentrok satu-sama lain, kini dia sepertinya bukan yang kukenal dulu. Sat ini diahadapanku, dia menangis…….
“saat itu aku tidak punya keberanian akan perasaanku, aku hanya berusaha membuang rasa itu…… dengan menghindarimu”
“dan muncul dengan status baru sebagai KEKASIH NICHOLAS? Begitu?”
“diam kamu! Kamu tidak tahu apa-apa!”
“karena kamu tidak pernah berusaha memberitahuku” balasnya
“karena kamu tidak pernah mau tahu! Dan sama sekali tidak pernah memberikanku kesempatan untuk memberitahumu” badanku terguncang,aku benar-benar menangis.
Kulihat dia ragu untuk mendekatiku, dan memutuskan tetap di tempatnya. Aku menatap matanya nanar.
“kamu tahu kenapa aku dengan Nicholash?” aku melangkah mendekatinya, dia tampak diam menatapku
“semua KARENA KAMU! KAMU DAN KRISTIN!”
“kristin?” dahinya berkerut
“kamu juga percaya isu itu?” lanjutnya mencibir.
“kenapa tidak? Kamu selalu dengan dia, ditambah lagi rumahmu tetanggaan dengan dia”
“childish”cibirnya lagi
“aku memang childish! Makanya kamu seenaknya mempermainkan perasaannku” tangisku makin menjadi
“aku tidak pernah mempermainkan perasannmu! Karena aku menyayngimu!” ucapnya setengah berteriak
“tapi kamu tidak pernah mau tahu tentang perasaanku” ucapnya lirih dia kembali membelakangiku
“dan, isu itu hanya isapan jempol belaka. Saat itu aku dengan kristin tidak ada apa-apa,tapi setelah kamu kembali dan mendeklarasikan diri dengan Nicholash aku menjalani sandiwara itu, sandiwara tanpa skenario yang sama sekali tak pernah kuharapkan…….. ” dia tampak menarik nafas
“dan teman-teman mulai menghidupkan isu itu” lanjutnya
‘tapi kamu menikmatinya” cibirku
“ya, aku menikmatinya sama seperti halnya dirimu menikmati hari-harimu dengan Nicholash, hanya bedanya aku menikmatinya dengan perasaan hambar” dia berbalik balas menatapku tajam
Lama kami tediam, hanya suara hujan yang terdengar, aku terduduk air mataku terus mengalir. Hujan makin deras tubuhku menggigil, aku tidak peduli. Aku tidak tahu haruskah aku gembira dengan kedatangan dia kembali disini. Atau harus menyesalinya karena kedatangannya memaksaku membuka luka lama dan membawaku kembali kemasa lalu.
“setelah aku di Canada aku terus menghubungimu, mengirimimu sms tiap hari dan itu berlangsung selama empat bulan, tapi tak pernah sekalipun kamu mebalasnya” dia melangkah ke arahku dan berhenti tepat di depanku,dia berjongkok dihadapanku jarak kami terpaut beberapa sentimeter saja.
“kenapa?” ucapnya lirih, kulihat mata itu sendu, meminta jawaban. Tangisku makin pecah
“sejak kepergianmu aku tidak pegang hp”
“kenapa?”
“aku rasa tidak lagi alasan bagiku untuk memegang hp” kami kembali terdiam
“kenapa kamu tidak menghubungiku leawat email, tidak balas emaiku?” aku balas menanyainya
“tunggu….. kamu bilang aku tdak kirim email? Tidak kebalik? Aku tak penah tidak membalas emailmu, tapi malah aku sering kirim email tapi kamu sangat jarang balas, hampir tidak pernah…”
“oh ya…….? Maksudmu emailnya dibawa angin? Begitu?!” aku mencibir
“kamu tahu sepertia apa perasaanku, saat aku dapat email kamu dari Ina? Aku pikir aku tak harus menceitakan secara detail, tapi yang pasti aku sangat bahagia dan….”
“sama. Aku juga dan saat itu aku bertekad untuk memperbaiki semuanya, aku pikir peluang itu masih ada, aku akan mencoba berani dan jujur dengan perasaanku. Tapi…….” Dia memalingkan wajah dariku
“kamu kembali dengan status barumu”
“aarrrrhggggggggggggg!!!!!!” dia meremas rambut gondrongnya, dan menendang kaleng tak berdosa di depannya
“aku tidak pernah menginginkan hal seperti ini. Aku hanya ingin jatuh cinta satu kali, dan satu orang…. Kamu!” dia menunjukku tepat di depan wajahku. Aku makin tegugu dengan keadaan dia sekarang
“aku…….” Aku tidak snggup menruskan kata-kataku
“maafkan aku….. ak lepas konrol” dia ampak gusar dan menyesal
“aku juga…… aku…… aku mampu bertahan hingga setahun yang lalu semua karena aku yakin aku bisa meraih cinta pertamaku. Aku….. meny……”
“aku menyayangimu. Masih dan akan terus menyayangimu” aku tergugu tubuhku bergetar hebat karena tangisku yang makin menjadi. Hari semakin sore, dan hujan belum juga reda
“meski untuk selanjutnya aku hanya bisa menyayangimu dengan cara yang berbeda………..”
“Anas………… aku……..”
“ssssstttttttttttttt……………… ” dia meletakkan telunjunknya di bibirku dan menggeleng
“kita hanya pemain, sang pembuat skenario yang berhak menentukan ending kisah ini, tugas kita hanyalah menjadi aktor yang baik. Kamu percaya takdir?” dia menatapku dalam, aku hanya terdiam
“yakinlah segala apa yang terjadi terhadap kita dari dulu hingga saat ini, itu adalah jalan takdir kita………..” dia bangkit dan berbalik……
“cinta itu tak harus memiliki” aku tahu dai menangis, sederas apapun guyuran hujan tidak akan bisa menyembunyikan suaranya yang bergetar.
“tapi…………….” Ddrrrtttttttttt… drrrtttttttttt. Getaran di saku bajuku mengurungkan aku melanjutkan kata-kataku, sebuah nama terpampang di layar hpku “mas Bayu”
“halo dek, kamu dimana? Tadi masak ke rumah kata mas One kamu keluar, hujan deras banget, jangan sampai kehujanan ntar sakit lagi. Ntar masak jemput,sekarang adek dimana?” aku termangu mendengar suara di ponselku.
Mas Bayu tunanganku, dia yang selama ini mengisi hari-hariku selama tidak ada Anas, menemaniku menunggu Anas, tempat curhatku tentang Anas. Anas Al-Mahdi cinta pertamaku.
“halo dek? Kamu baik-baik saja kan?” aku tersadar dari lamunanku. Anas menatapku…
“ah… iya mas adik baik-baik saja. Ntar lagi nyampe rumah”
“apa? Disitu suara hujan banget, adik bilang saja ada dimana ntar masak jemput”
“nggggg………..”
“pulanglah dia sangat menghawatirkanmu” Anas berbalik siap meninggalkanku
“tunggu…….” Langkah Anas terhenti tampa menoleh
“apa dek? Adek ngomong apa?” tutttttttttt……… aku matikan hpku dan bangkit melangkah menuju Anas
“ada apa?” kali ini nadanya dingin dan tetap membelakangiku
“kamu mau kisah ini berakhir seperti ini?” tangisku kembali pecah
“bukankah kisah kita sudah lama berakhir?” ucapnya ringan
“apa? Lalu apa maksud kamu kembali? Apa maksudmu memanggilku ke sini?” aku meraih bahunya dan menghadapkan badannya padaku, dia mengalihkan pandangan
“kamu mau mempermainkan perasaanku?” dia tetap tak menatapku sedikitpun
“kamu benar-benar jahat, kamu…………”
“karena aku rindu kamu” dia menatapku
“karena aku ingin bertemu denganmu. Itu alasanku kembali”
“meski kau tak mungkin kumiliki, tapi mengetahui bahwa masih ada cinta dihatimu untukku meski seujung kuku, itu sudah cukup” dia menatapku lembut
“tapi………….”
“sssssssssttttttttt, Airin,sekarang keadaannya sudah berubah, kita tidak bisa menafikan status kita saat ini. Jangan egois, mungkin tuhan menakdirkan kita untuk saling menyayangi, tapi tidak untuk saling memiliki. Perlahan dia membuka jaket yang dikenakannya
“Bayu itu baik, dia menyayangimu, aku kenal diasejak kicil. Begitupun hngga saat ini” dia menyampirkan jaketnya menutupi tubuhku
“dan kamu…..?” aku menatapnya
“keajaiban itu benar-benar ada, yakinlah keajaiban apapun nanti. Itulah yang terbaik untukmu, untukku… dan untuk semua dan saat itu kita harus siap menerima apapun itu”
Dia tersenyum, aku tahu senyum itu senyum keterpaksaan, lalu berbalik dan………….
“pergilah semua menghawatirkanmu” dia bersiap melangkah
“Anas…..” dia tidak menghiraukanku, aku tidak tahu apa aku salah dengar, tapi sepertinya aku mendengar dia berkata aku menyayangimu
“Anasssssssssssssss” aku berteriak memanggilnya, dia tetap melangkah meninggalkanku. Dan aku tidak punya keberanian untuk mengejarnya, yang kulihat punggung dan wajahnya yang tertunduk. Aku tahu dia resah, bahkan sangat. Aku tahu kabiasannya sejak SMP kala dia dia sedang resah, dia selalu memasukkuan kedua tangannya ke saku celanaya. Dan begitupun saat ini.
“Anasssssssssssssssss” aku terduduk, tangisku makin menjadi. Aku benci keadaan seperti ini, aku benci keadanku yang lemah. Saat ini aku seolah-olah de-javu untuk kedua kalinya. Aku melepasnya….. oarang yang sama.
Dddrrrrrrrrrtttttttt…… dddrrrrrrrrrrrtttttttt. Aku tak menghiraukan hp ditangannku. Untuk saat ini aku tidak ingin berbicara dengan siapapun, aku butuh waktu untuk memperbaiki semuanya. Kepalaku sakit lagi.
“dek, Masyaallah kamu kenapa? Kamu kok hujan-hujannan ntar kamu sakit lagi” aku tahu siapa pemilik suara ini. Mas Bayu meraihku dan membimbingku menuju mobil
“oke, kamu tidak harus menjelaskannya sekarang, tau sampai kapanpun,jika adek nggak suka. Jangan banyak mikir dek….. ingat kesehatnmu” kami sampai di mobil, sebelum aku masuk mobil aku menoleh berharap ada seseorang dengan kaus putihnya yang mulai kekecilan yang kuberikan padanya 5 tahun yang lalu berlari menujuku dan memanggilku. Tapi ternyata tidak ada siapa-siapa
“dek…..” aku tersadar dan bersiap masuk mobil, tapi sekilas aku lihat ada bayangn putih dikaca mobilku,saat aku berbalik tidak ada siapa-siapa .
“Dia benar-benar tidak meginginkanku lagi”
ba“dc
Saat kami sudah di mobil, tanpa sengaja aku menemukan kertas kicil terlipat rapi di saku jaket Anas
“sekali saja adik nyakitin hati Bayu, seumur hidup aku tidak akan memaafkannmu”
Apa maksudnya ini? Apa sebenarnya maksud dia melakukan ini? Kepalaku makin sakit. Aku tidak mau memikirkan ini lagi. Setidaknya ntuk saat ini.
Perlahan kulirik seseorang di sampingku yang kini tengah khusu’ menyetir, aku merasa bersalah kepadanya………….. dia selama ini yang selalu ada untukku….. menemaniku dengan sabar selama 5 tahun…….. aku…….
“mas……..” aku tidak sanggup berkata-kat lagi, karena kini air mataku telah membanjiri pipiku
“iya, kenpa? Kepalanya sakit lagi?” mas Bayu menghentikan mobil. Panik.
“masak kan dah bilang, adek itu lemah, jangan bandel. Hujan itu bahaya bagi kesehata adek” masak masih terus nyerocos dan menyentuh keningku
“tuh kan badan adik demam”
“mas…… aku…….” Aku mengabikan ocehannya, menatap tepat dimatanya. Masak diam
“maafkan aku……….. aku….”
“sssttttt……. Jangan banyak ngomong dulu, kamu masih sakit. Sudah tidur saja. Masak menyayangimu” perlahan masak mencium keningku, mengusap kepalaku pelan. Lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Aku memejamkan mata, mencoba membuang semua pikiran yang mebuatku kacau.
Hidup itu pilihan, sekal kita memilih putih, maka otomatis kitaharus berani kehilangan warna-warna yang lain, karena ini bukan pelangi. Tapi inilah hidup.
Aku telah memilih mas Bayu, dan mau tidak mau aku harus melepas dan siap kehilangn yang lain, termasuk Anas.
Di sebuah taman seseorang tengahsibuh mencari sesuatu di sakunya, dia tersadar sesuatu sesuatu yang dicarinya dan yang berniat dibuangnya kini ada di saku jaketnya, dan jaket itu tak bersamanya lagi
“ahr! Shitt! Sial!” lalu melangkah gontai meninggalkan taman itu, mencoba tegar, dan sesekali mengusap pipinya.
Kenapa aku selemah ini?
Terinspirasi dari ungkapan seorang Dosen
Terimakasih Bu. Hani’ah “AA’” karena akhirnya saya berani menulis "ini"
Dedicated 4 seseorang yang selalu ada untukku. Maaf atas semua selama ini…….
Aku menyayangimu
Guluk-guluk 15-18 Mei 2009


0 komentar:
Posting Komentar