Rabu, 21 Januari 2009

LAGUKU INSPIRASIKU

Tulisan ini diterbitkan Radar Madura untuk rubrik KEKER_PLUS (Ahad,18 Januari 2009)


Lagu favorit? Wow! Hidup tanpa lagu bagai sayur tanpa masako. Tapi bener, lho. Tanpa lagu hidup terasa hampa. Hambar banget. Saya sendiri termasuk mania lagu, terlebih genre pop Indonesia yang saat ini lagi digandrungi kaum remaja seperti saya. Semua orang akan bilang dengan musik kita bisa ngilangin rasa bosan, bete, atau bisa sedikit ngurangin rasa sedih bagi yang lagi putus cinta. Tapi jangan sampai salah pilih lagu, kalo lagi patah hati karena diduain jangan dengerin demi waktunya Ungu, bisa-bisa yang gak kuat imannya gantung diri. Lebih oke dengerin aja suara Tika Projec Pop dkk, lewat bukan superstarnya. Barangkali lagu itu bisa bikin kita sedikit ceria. Selain itu, lagu bagi saya pribadi adalah inspirasi. Saya termasuk makhluk yang “agak” suka corat-coret, --termasuk corat-coret tembok kampus! Hik! Dan musik sangat berperan sebagai inspirasi terbesar bagi hobi saya itu. Menulis cerpen misalnya.
Baru-baru ini saya sangat tertarik dengan kuberharap-nya Hijau Daun suara yang memang lagi booming di kalangan saya saat ini. Saya jadi ngebet banget untuk bikin semacam oretan yang barangkali bisa dikategorikan cerpen, berkisah tentang seseorang yang pisah sama pujaan hatinya sedangkan ia masih sangat mengharapkan sang pujaan.
Selain alasan itu (inspirasi), seseorang biasanya menyukai sebuah lagu karena satu dan lain hal. Diantaranya, karena vokalisnya yang (ehem..) cakep, suaranya megang banget!, atau karena ikut-ikutan teman karena lagu itu lagi hit alias terdengar dimana-mana. Tapi yang paling banyak biasanya alasan mereka memilih sebuah lagu karena lirik lagu itu sejalan dengan kisah hidupnya, misalnya dia lagi ada hati sama seseorang tapi tidak berani mengungkapkan isi hatinya maka seharian ia akan nyanyi cinta dalam hati-nya Ungu, atau seseoarng yang sangat optimis bahwa dia bisa mendapatkan orang yang jadi pujaan hatinya, maka liriknya akan senantiasa mengalir dari bibirnya, “aku bisa membuatmu cinta kepadaku meski kau tek pernah cinta kepadaku…” wah, optimis tingkat tinggi tuh. Atau seseorang akan nyanyi dengan syahdu liriknya Ressa karena ia “menyesal” telah mengenalkan kekasihnya sama temennya, eh malah diambil temnnya itu . Apes!
Ada satu pendapat lagi yang bisa dikatakan unik, mengatakan bahwa dengan lagu kita bisa tambah pinter. Kenapa tidak? Saya punya seorang teman yang “Cinta Mati” sama lagu-lagu barat, mulai lagu-lagu Britney, Westlife, Linkin Park sampai laguny sang legenda Michael Jackson, pokoknya yang all about english deh, pas saya tanya apa dia paham maksud lagu itu, eh ternyata dengan santainya dia ngejelasin maksud dari lagu-lagu itu. Saya tanya lagi bagaimana dia “sebegitu” pahamnya dengan maksud lagu itu? Jawabnya “namanya juga ngefans, gak apa-apa bela-belain ngubek-ngubek kamus Jhon Echols sekalian nambah kosa kata”. Nah lo? Bener kan secara tidak langsung kita bisa refreshing dan nambah pinter. Lagu Indonesia bukan hanya untuk refreshing saja, seperti yang saya bahas di atas tadi, lagu bisa jadi inspirasi bagi kita, dengan menulis misalnya, lama-lama siapa tahu bisa jadi penulis yang “bener-bener” penulis.
Tapi ada hal yang labih penting lagi, sah-sah saja kita “sakau” akan lagu-lagu, tapi jangan jadikan itu alasan kita lupa akan kewajiban kita sebagai pelajar. Intinya pinter-pinter manfaatin waktu lah.

Read more...

Senin, 19 Januari 2009

BAHASA ASING DI TENGAH PROSES KEMATIAN BAHASA MADURA

Berbicara bahasa asing memang tidak pernah habisnya. Bahkan, sekarang bahasa asing, mulai dikenalkan sejak di bangku TK. (misalnya bahasa Inggris). Awalnya saya pikir bahasa asing itu tidak penting, apalagi dulu, di kampung saya yang (lumayan) terbelakang sering ada ungkapan “untuk apa belajar bahasa asing, toh pada akhirnya tetap di sini saja (Indonesia)”. Waktu itu saya membenarkan ungkapan itu dan “nyuekin” bahasa asing. Tapi ketika saya mulai kenal dunia saya yang sekarang (pesantren) saya mulai menyadari “betapa”  saya merasa begitu “kerdil” diantara teman-teman saya yang sudah berteman dengan bahasa asing sejak “baru melihat dunia”. Saya hanya jadi penonton yang baik kala mereka asyik dengan dunia mereka yang “asing” bagi saya.
Jadi, kalau ditanya tentang tanggapan terhadap bahasa asing, tanpa harus berpikir dua kali saya akan berkata “sangat penting”, apalagi saat ini sedang marak-maraknya konpetisisi (baik antar sekolah ataupun antar universitas) yang tak lepas dari bahasa asing, mulai dari konpetisi tertulis (karya ilmiah, misalnya) atau secara lisan (debat), dari tingkat daerah, regional, nasional bahkan Internasional. Bagi yang sudah terbiasa dengan bahasa asing, itu adalah hal biasa, tapi bagi yang belum atau baru kenal dengan bahasa asing itu adalah hal yang “WAH”, bahkan ada yang merasa dirinya “tidak bisa”. Jadi ungkapan bahwa hanya akan berkutat di “kandang sendiri” perlahan tapi pasti mulai terkikis dari benak saya, dan mulai mencoba “PeDeKaTe” dengan bahasa asing.
Selain itu ada hal yang jauh lebih penting lagi kenapa kita dituntut harus bisa menguasai bahasa asing. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sebentar lagi akan diresmikan jembatan Suramadu yang itu berarti pasar bebas akan dibuka, dan otomatis orang-orang asing akan berdatangan ke kampung kita tercinta ini. 
Madura akan menjadi salah satu tujuan pebisnis pada pasar bebas ini termasuk objek wisata yang dimiliki Madura yang tentunya merupakan tempat yang akan banyak diminati oleh para turis. Lalu muncul sebuah pertanyaan, siapkah kita menghadapi perubahan yang sudah di ambang mata ini? Tentunya setelah mental kita siapkan terlebih dahaulu. Itu tidak cukup sebelum kita bisa “lumayan” menguasai bahasa asing, bahkan yang lebih dikhawatirkan lagi kita sebagai “tuan umah” jangan-jangan malahan jadi kambing congek karena kita “buta” dan “tuli” bahasa  mereka. Dari sana sudah jelas betapa pentingnya bahasa asing bagi kita. 
Setiap sesuatu ada pasangannya, ada siang ada malam, ada hidup ada mati. Begitupun bahasa asing, tidak hanya memiliki sisi positif, sedikit saya akan paparkan “virus” yang kini melanda kaum pelajar kita para “mania” bahasa asing. Ada sebagian golongan karena saking “cintanya” terhadap bahasa asing sampai-sampai “meng anak tirikan” pelajaran lainnya yang hal itu sangat berpengaruh terhadap pendidikan mereka.
Di sisi yang lain kita juga harus melestarikan bahasa daerah yang kita miliki. Sebab bagaimanapun, bahasa daerah (baca: bahasa Madura) merupakan warisan berharga dan aset yang wajib kita jaga. Intinya meskipun kita sudah bercas-cis-cus dengan bahasa asing, tapi enggi punten bahasa daerah kita jangan sampai terlupakan dan hilang begitu saja. 
Membincangkan bahasa asing dan bahasa daerah, khususnya Madura, memang seperti membincangkan buah si malakama. Di satu sisi kita dituntut untuk menguasai bahasa asing namun di sisi yang lain kita harus melestarikan keberadaan bahasa daerah. Sebab, bahasa daerah kita berdasarkan penelitian Pusat Bahasa Depdiknas RI, bahasa daerah berjumlah 731. Pada 2007 tinggal 726 karena 5 bahasa diantaranya mati. Keadaan ini juga terjadi dalam bahasa Madura. Penelitian B.K Purwo  di tahun 2000 penutur bahasa madura sebanyak 13 juta atau sekitar 5% dari jumlah penduduk Indonesia, sedihnya pada  2007 (hasil penelitian Pusat Bahasa) penutur bahasa madura tinggal 10 juta atau sekitar 2,2% dari jumlah penduduk Indonesia. Ini berarti bahwa bahasa Madura sedang mengalami kemunduran dan kematian. Jadi jika tidak perhatikan sebagaimana kita memperhatikan bahasa asing maka bahasa daerah Madura akan hilang.
Akhirnya, tak ada jalan lain kecuali kita memang harus menguasai bahasa asing namun juga harus tetap menjaga dan melestarikan bahasa Madura dengan berbagai cara. Misalnya menuturkan dalam kehidupan sehari-hari (lisan), tulisan dan lain sebagainya. 

dimuat di Radar Madura (keker) tanggal 28 Desember 2008

Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP